bukan Inlander
Ini tulisan bentuk kegeraman atas sikap dan mentalitas diri sendiri dan bangsa ini sebagai inlander. Benar-benar muak, ternyata aku dan bangsa ini adalah seorang inlander, sosok budak jajahan yang tidak bisa menentukan arah kehidupannya sendiri.
Aku menganggap diriku sebagai personifikasi bangsa Indonesia. Setuju atau tidak, terserah. Tapi setidaknya aku mewakili dari 300 juta lebih rakyat Indonesia, yang memiliki latar belakang dan hidup dalam sistem yang sama, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, jangan salahkan aku jika aku mewakili dari jutaan rakyat Indonesia, untuk mempresentasikan sikap dan mentalitas diri dan bangsaku.
Sejak awal, aku lahir dari seorang bapak tukang ketik disebuah sekolah kejuruan keputerian pertama (SKKP) di Bandung. Ibuku seorang ibu rumah tangga sekaligus mengelola kantin kecil-kecilan di lingkungan sekolah tersebut. Di rumah dinas yang dulunya bekas toilet dan diubah bapakku menjadi rumah yang nyaman, aku hidup bersama 5 kakak-kakakku, dan dua orang sepupu dari ibuku. Dilingkungan itu, ada beberapa rumah yang dihuni kepala tata usaha dan guru-guru sekolah.
Sejak kecil, lingkungan membentukku untuk selalu hormat dan tidak boleh membantah dengan kebijakan sekolah sebagai pemilik lahan. Saat itu, sekolah aku gambarkan guru-guru yang menghuni rumah dinas di lingkungan sekolah. Maka, aku pun selalu saja manut dan tidak bisa bertindak bebas di lingkungan ini, karena para guru dan anak-pinaknya, adalah orang terhormat. Aku hanya anak pegawai rendahan.
Ini juga yang dilakukan bapak dan ibuku. Senantiasa rengkuh dan merendah jika berhadapan dengan mereka. Walaupun, sempat bapakku berontak dalam sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan hatinya. Sampai-sampai, guru dan para penghuni rumah dinas itu tidak mau macam-macam dengan bapakku. Tapi kebanyakan, bapak dan ibuku selalu meneladani sikap dan mental yang selalu “para guru itu lebih baik” dari mereka.
Setelah akal ku mulai diisi dengan pengajaran dan pendidikan sekolah, aku pun mulai membuat “teori”. Teori ini memang dari pengamatan dan pengalaman keseharianku bersama orang-orang terdekat di lingkungan ku. Teori ini adalah, “orang akan selalu terjajah tatkala berada dekat dengan orang yang lebih tinggi derajat dan pangkatnya”. Maknanya, aku tidakpernah bebas bertindak dan berekspresi jika berada diantara orang-orang yang pangkat, derajat, atau kekayaannya melebihi dari aku.
Teori ini memang hanya tersimpan dalam benakku sendiri, yang membentuk mental dan cara aku bersikap. Hingga saat inipun, teori ini menjadi sebuah bentuk satu kesatuan, yakni diriku. Aku kerap menjadi orang yang berkuasa jika berhadapan dengan orang yang lebih rendah kekayaannya, atau golongannya, pengalamannya, usianya. Tentu aku akan menjadi orang yang paling kecil jika aku berhadapan dengan orang yang lebih tinggi usianya, kekayaannya, golongan dan derajatnya, pengalamannya, dan ketinggian lainnya.
Aku tidakbisa menentukan arah hidup jika berada dengan orang yang memiliki pengaruh. Aku tidak berontak meski nyata-nyata orang yang lebih dariku itu, salah menentukan arah kebijakan. Aku sulit untuk menolak, jika orang-orang yang lebih tinggi dariku menuntut sesuatu. Ingat teoriku memang bekerja dengan baik.
Sejak dulu, aku tidak memiliki nama untuk teoriku ini. Hingga suatu saat, Kwek Kian Gie menyebutnya dalam sebuah acara interaktif di televisi saat debat tentang Kenaikan BBM, bahwa pimpinan kita memiliki mental inlander. Nah, begitu jelas ternyata teoriku ini adalah “teori inlander”. Kata-kata itu membuat ku semakin jelas tentang teori yang selama ini aku citrakan.
Apakah para pemimpin negeri ini masuk dalam “teoriku”.
“YA….!!!”
Aku menyimpulkan, aku dan seluruh rakyat di NKRI ini memiliki mentalitas dan cara bersikap yang sama. Tak peduli dengan pimpinan terendah hingga pimpinan tertinggi di bangsa ini, aku dan mereka sama saja. Sedikit sekali rakyat Indonesia ini memiliki mental yang tidak masuk dalam “teori” – ku ini. Aku akan manut pada orang yang lebih berkuasa dari diriku. Begitu pun pimpinan negeri ini, akan manut pada orang yang lebih tinggi kekuasaanya. Termasuk, soal arah hidup dan kehidupannya sendiri, aku dan bangsa ini sangat ditentukan oleh orang yang paling berkuasa di jagat ini.
Kini saatnya melancarkan sebuah pemberontakan, invasi atau sejenis kudeta atas teoriku ini. Teori inlander sudah tidak lagi aku anut. Dalam jenis dan bentuk apa pun, Inlader sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan mentalitasku. Aku pun kini menyusun sebuah teori pemberontakan, seperti halnya tokoh-tokoh pemberontakan mulai Karl Marx hingga Ayatulloh Khomeini, “teori Bukan Inlander”
Hari ini, aku proklamasikan aku bukanlah Inlader.
— AbahFariz —
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Juli 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Juli 2008 (1)
- April 2008 (3)
- Januari 2008 (2)
- Desember 2007 (2)
- November 2007 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS