Abahfariz’s jeBLOG

catatan waktu

Kebenaran Milik Siapa

“…orang bicara cinta

atas nama Tuhannya

sambil menyiksa, membunuh,

berdasarkan keyakinan mereka….”

cuplikan lagu di album Swami

Tidak ada keraguan, bahwa Tuhan adalah pemilik Kebenaran. Dia absolut, dan tidak ada kesalahan pada Tuhan. Walaupun setiap orang memiliki Tuhan yang berbeda-beda (dari zat atau interpretasi belaka-red). Namun, sejak dulu hingga kini, bahkan mungkin hingga akhir masa, perebutan singgasana kebenaran oleh manusia selalu terjadi. Jika tidak berdebat dan perang mulut, bentrokan fisik dan cara-cara keji dilakukan untuk menandaskan diri atau suatu kelompok yang menjadi benar. Padahal, mereka sendiri menyakini, milik Tuhan-lah segala kebenaran. So, kenapa kita merampas kebenaran itu dari Tuhan?

Dalam sebuah hadist Nabi SAW, “hikmah itu milik orang Islam yang hilang. Jika engkau menemukannya, ambilah,” Merujuk pada hadist ini, Almarhum Cak Nur menginterpretasikan bahwa seorang Muslim harus mengambil setiap Hikmah, dimana pun ia menemukannya. Sebab, katanya, “Islam adalah kebenaran, dan setiap kebenaran adalah Islam”. Jadi, jika dari pantat seekor ayam sekalipun tapi itu adalah telur, ambilah. Tapi jika itu dari pantat seorang Ulama besar, tapi itu kentut, tutuplah hidung.

Saya mengartikan, bahwa manusia telah diberi ruh kebenaran saat berada di alam rahim ibunda. Tiupan ruh dari Tuhan itulah, yang tersimpan dalam hati, sebagai penjaga kebenaran. Inilah yang disebut Nur-ani (cahaya kalbu). Meski hati telah keruh dan pekat, hingga berubah menjadi Dzulmani (kegelapan hati), tapi tetap masih ada cahaya di dalamnya. Dari sinilah, tatkala seseorang menjadi hakim atas kebenaran, bisakah kita melihat lebih dalam, manusia yang dianggap tidak benar itu telah ditakdirkan hidup dengan tiupan ruh-Nya saat dalam rahim ibunda. Lalu, tidak-kah kita menjagal kebenaran itu, walau hanya secuil?

Saya masih meyakni, Tuhan adalah Pemilik Kebenaran, dan Manusia hanya berusaha mendekati dan menyerap kebenaran. Muhammad Iqbal, sufi, penyair, dan filosof eksistensial asal Pakistan, ” tidak ada Istilah Anna al-Haq yang ditafsirkan Al-Halaj, Suhrawardi al-Maqtul, atau syech Siti Jenar. Yang ada hanyalah absorb, menyerap nilai-nilai kebenaran Tuhan, dan meng-ejawantahkan dalam perilaku.”

Lalu, kenapa masih banyak orang yang merampas Hak Kebenaran Tuhan?

April 30, 2008 Ditulis oleh abah fariz | the mind battle | | No Comments Yet